Mengatasi Kekurangan Air


Standard Post with Image

Hujan mulai turun di Kota Makassar tapi belum kontinyu. Masih lebih lama masa panasnya daripada masa hujannya. Meskipun demikian, kemarau saat ini berdampak pada berkurangnya suplai air bersih dari PDAM Kota Makassar ke warga.

Beberapa perumahan yang biasanya air mengalir 24 jam, mulai mengalir secara terjadwal. Itu terjadi karena harus berbagi jadwal  dengan perumahan lain. Suplai air yang berkurang menjadi penyebabnya. Selain adanya kerusakan jaringan pipa air sehingga perlu waktu perbaikan.

Bagi warga yang selama ini airnya lancar tiba-tiba tidak lancar lagi seperti biasa, tentu merasakan ketidaknyaman. Ada warga yang protes, marah dan mengeluh tentu merupakan hal yang wajar asalkan proporsional. Namun ada juga warga yang bersabar dan tetap bersyukur. Selama ini air lancar dianggap biasa saja sehingga jarang disyukuri. Kadang-kadang malah boros dalam menggunakan air. Kondisi sekarang menjadi teguran untuk hemat dan perhitungan dalam menggunakan air.

Masalah air juga ada sisi spiritualnya. Kondisi apapun tetap masih lebih baik dibandingkan dengan daerah yang gersang. Contohnya di NTT, untuk mendapatkan air masyarakat harus jalan  berkilo-kilo meter ke sumber air. Melihat itu harapannya membuat kita tetap bersyukur. Bersyukur dalam kondisi terbatas membuat kita dapat menikmati keadaan apapun sehingga perasaan dan pikiran tetap positif untuk mencari jalan keluar terbaik dari masalah yang dihadapi.

Berfikir solutif dan antisipatif juga dibutuhkan. Bagi PDAM atau pengelola perumahan harus mencari jalan keluar. Berkurangnya suplai  dari satu sumber solusinya perlu mencari sumber air baru. Bisa juga melalui inovasi teknologi pengolahan air sehingga banyak jenis air yang selama ini terbuang  dapat diolah menjadi layak konsumsi.

Manajemen air juga perlu diperhatikan. Saat musim hujan air berlebih sehingga terjadi banjir. Perlu tindakan menyimpan air yang berlebih saat musim hujan untuk digunakan di musim kemarau. Ibarat lumbung air yang menjadi cadangan saat kering. Bisa juga air yang setiap hari digunakan oleh masyarakat ditampung dan diolah kembali. Tentu butuh drainase dan saluran air yang bagus seperti di negara maju. Siklus air dapat berjalan sehingga tidak akan terjadi kekurangan air.

Bagaimana caranya agar itu  semua bisa terwujud? Butuh sinergi dan kerja sama dengan seluruh komponen terkait. Makassar dan Sulsel memiliki banyak Perguruan Tinggi negeri dan swasta.  Bahkan ada PTN yang sudah masuk 3 besar nasional dan kategori kelas dunia. Tentu di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta ada banyak ahli di bidang pengolahan dan manajemen air. Libatkan mereka sebagai konsultan sehingga dapat dibuat rencana solusi jangka panjang yang mantap.

Rencana tanpa eksekusi hanya akan jadi ilusi. Eksekusi ibarat empat kaki meja butuh man, money, machine and method. Man terkait SDM yang profesional dan kompeten. Pasti bisa dicari. Tentu saja eksekusi butuh dana. Jika menyangkut hajat hidup rakyat maka pemerintah harus prirotaskan dari dana negara. Jika dana tersedia maka machine atau teknologi dan metode terbaik dapat disiapkan.

Akhirnya harus ada komitmen dari pemimpin atau pemerintah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Memikirkan masalah rakyat dan mendahulukan kepentingan mereka daripada keuntungan pribadi dan golongan. Bahkan rela berkorban demi kepentingan rakyat karena yakin tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Jika tidak dinikmati di dunia maka pasti akan ada balasan di akhirat.

Semoga masalah kekurangan air yang setiap tahun melanda warga dapat segera diatasi. Mari bahu membahu, sinergi, kerja sama, gotong royong antara pemerintah, akademisi, rakyat, para ahli dan tenaga profesional. Semua masalah dapat diselesaikan jika ada kemauan. Prinsipnya ada mau ada jalan, tidak mau banyak alasan.