Servant Leadership


Standard Post with Image

Salah satu keunggulan komparatif bangsa Indonesia yaitu banyaknya populasi penduduk pada umur produktif. Diperkirakan ada sekitar 65% dari total penduduk. Jika dibuat piramida penduduk maka bentuknya seperti belah ketupat. Besar di tengah. 

Berbeda dengan negara maju seperti Jepang dan negara Eropa seperti Inggris dan Jerman. Piramida penduduknya berbentuk piramida terbalik. Lebih banyak jumlah orang tua dibandingkan umur produktif. Akibatnya negara terbebani dengan biaya jaminan sosial yang tinggi. 

Kembali ke Indonesia yang mayoritas penduduknya usia produktif. Itulah yang disebut dengan bonus demografi. Lebih menariknya lagi diperkirakan 55% dari usia produktif tersebut adalah generasi millenial yang lahir setelah tahun 1984. 

Generasi millenial memiliki ciri yang khas. Salah satunya yaitu melek teknologi sehingga dapat bekerja dengan cepat. Lalu mereka juga dapat dengan mudah mengakses informasi dan ilmu pengetahuan. Banyak referensi sehingga dapat mengambil keputusan dan tindakan dengan tepat. 

Mereka hidup di era digital dengan akses jaringan internet yang tanpa batas. Didukung dengan perkembangan media sosial. Maka pola pergaulannya adalah setara melalui media sosial yang tanpa hirarki. Pola kerja juga dalam jaringan dan team work. Bukan komando dan kontrol yang ketat dan kaku. Lebih senang dengan pola bersahabat.

Memimpin millenial membutuhkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Gayanya harus sesuai dengan karakter mereka yang cepat, tepat dan bersahabat. Itulah servant leadership. Kepemimpinan yang unboss atau tidak menonjolkan posisi dan kendali tapi komitmen.

Servant leadership atau kepemimpinan yang melayani memiliki ciri utama yaitu keinginan dari pemimpin untuk membantu bawahannya agar tumbuh menjadi dirinya yang terbaik. Untuk itu pemimpin harus mampu mengenali potensi bawahannya secara individual.  

Hal ini membutuhkan kemampuan untuk menjadi coach, mentor dan fasilitator. Dua keterampilan yang harus dimiliki yaitu mampu bertanya  dan mendengarkan dengan baik. Menyimak pandangan dan pendapat anggota tim sebelum memberikan feedback dan masukan yang pas. Bahkan mampu menggali solusi dari anggota tim melalui pertanyaan yang terstruktur dan konstruktif.

Bertanya dan mendengarkan membuat pemimpin menjadi sahabat bagi anggota timnya. Millenial punya banyak informasi dan pengetahuan. Pemimpin sebagai sahabat membantu menggunakan pengetahuan tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi. 

Tentu tidak cukup hanya bersahabat. Agar dapat memimpin dengan baik perlu juga kecerdasan dan kecepatan. Jika itu dimiliki maka pemimpin dapat bertindak dengan cepat dan tepat. Itulah servant leadership. Semoga kita yang menjadi pemimpin di bidang apapun dapat mentransformasi diri menjadi pemimpin dambaan millenial yang cepat, tepat dan bersahabat.

Penulis: Syamril, S.T.,M.Pd (Kalla Business School)